TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

APA KARAKTERISTIK ANAK TUNANETRA ?

KARAKTERISTIK ANAK TUNANETRAAnak Tunanetra atau Anak berkebutuhan khusus (ABK)  dengan hambatan penglihatan. Memiliki karakteristik akademis, karakteristik dalam aspek pribadi dan sosial, karakteristik dalam aspek fisik/sensoris, motorik/perilaku.

a. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Akademis

Menurut Tillman & Obsorg (1969), ada beberapa perbedaan antara anak tunanetra dan anak waras yaitu:

  1. Anak tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti anak awas, tapi pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan.
  2. Anak tunanetra mendapat angka yang hampir sama dengan anak awas dalam hal berhitung, informasi dan kosa kata, tapi kurang baik dalam hal pemahaman (comprehension) dan persamaan.
  3. Kosa kata anak-anak tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang denitif, sedangkan anak awas menggunakan arti yang lebih luas.

Contoh:

Bagi anak tunanetra kata malam memiliki arti gelap atau hitam. Sedangkan bagi anak awas, kata malam memiliki makna cukup luas, seperti malam penuh bintanag atau malam yang indah dengan sinar purnama.

Studi yang dilakukan oleh Kephart & Schwartz (1974), juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan yang berat cenderung memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan, dan mampu berprestasi seperti anak awas (ada beberapa tes standar). Di lain pihak kemampuan mereka untuk memproses informasi sering berakhir dengan pengertian yang terpecah-pecah atau kurang terintegrasi, sekalipun dalam konsep yang sederhana. Berbagai pendapat diatas menunjukkan bahwa ketunanetraan dapat mempengaruhi prestasi akademik para penyandangnya. Disamping itu, peningkatan dalam penggunaan media pemberlajaran yang bersifat auditory dan taktil dapat mengurangi hambatan dalam akademik siswa. Pendengaran merukan indera mereka yang dapat digunakan untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan mereka peroleh karena memiliki bakat dalam bidang musik.

BACA JUGA  BRAILLE READING

b. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Pribad dan Sosial.

Beberapa literatur mengemukakan karakteristik yang ungkin terjadi pada anak tunanetra yang tergolong buta sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari kebutaanya adalah :

a) Curiga pada orang lain

Keterbatasan rangsangan visual atau penglihatan, menyebabkan anak tunanetra kurang mampu dalam berorientasi pada lingkungannya sehingga kemampuan mobilitasnya pun terganggu.

b) Mudah tersinggung

Pengalaman sehari-hari yang sering menimbulkan rasa kecewa dapat mempengaruhi tunanetra sehingga tekanan-tekanan suara tertentu atau singgungan fisik yang tidak sengaja dari orang lain dapat menyingging perasaanya.

c) Ketergantungan pada orang lain

Sifat ketergantungan pada orang lain bisa saja terjadi pada anak tunanetra. Hal itu mungkin saja terjadi karena ia belum berusaha sepenuhnya dalam mengatasi kesulitannya sehingga selalu mengharapkan pertolongan orang lain.

BACA JUGA  APA ITU TUNANETRA !!!

c. Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Fisik/Sensoris, Motorik/Perilaku

a) Aspek fisik dan sensoris

Secara fisik, mudah ditentukan bahwa orang tersebut mengalami tunanetra. Hal itu dapat dilihat dai kondisi matanya dan sikap tubuhnya yang kurang ajeg serta agak kaku. Pada umumnya kondisi mata tunanetra ada yang terlihat putih semua, tidak ada bola matanya atau bola matanya agak menonjol keluar. Namun, ada juga yang secara anatomis matanya, seperti orang awas sehingga kadang-kadang kita ragu kalau dia itu seorang tunanetra, tetapi kalau ia sudah bergerak atau berjalan akan tampak bahwa ia tunanetra. Dalam segii indra, umumnya anak tunanetra menunjukkan kepekaan yang lebih baik ada indra pendengaran dan perabaan dibandingkan anak awas. Namun, kepekaan tersebut tidak diperolehnya secara otomatis, melainkan melalui proses latihan.

b) Aspek motorik/perilaku

Ditinjau dari aspek motorik/perilaku anak tunanetra menunjukkan karakteristik sebagai berikut :

  • Gerakannnya agak kaku dan kurang flekasibel. Oleh karena itu keterbatasan penglihatannya anak tunanetra tidak bebas bergerak, seperti halnya anak awas. Dalam melakukan aktivitas motorik, seperti jalan, berlari atau melompat, cenderung menampakkan gerakan yang kaku dan kurang fleksibel.
  • Perilaku stereotipe. Sebagian anak tunanetra ada yang suka mengulang-ngulang gerakan tertentu, seperti mengedip-ngedipkan atau menggosok-gosok matanya. Perilaku seperti itu disebut perilaku stereotipe.

Disamping karakteristik di atas, berikut ini akan dikemukaka aktivitas-aktivitas motorik yang sering ditunjukkan oleh anak kurang lihat (low vision).

  1. Selalu melihat suatu benda dengan cara memfokuskan pada titik-titik benda. Dengan mengerutkan dahi, ia mencoba melihat benda yang ada disekitarnya.
  2. Memiringkan kepala ketika akan memulai melakukan pekerjaan. Hal tersebut dilakukan untuk mencoba menyesuaikan cahaya yang ada dan daya lihatnya.
  3. Sisa penglihatannya mampu mengikuti gerak benda. Apabila terdapat benda yang bergerak di depannya, ia akan mengikuti arah gerakan benda tersebut sampai benda tersebut tidak tampak lagi.

Referensi :

Bishop, V. E.1996. Teacing Visually Impaired Children. Springfield: Charles C. Thomas Publisher.

Dodds, A. 1993. Rehabilitating Blind and Visually Impaired People: A Psychological Approuch. London: Chapman &Hall.

Irham Hosni, (tt). Konsep Dasar Orientasi dan Mobilitas, Sosial dan Komunikasi (OMSK). Makalah

Lowenfeld, B. (ed). (1973). The Visually Handicapped Child in School. New York : The John Day Company.

Mangold, S.S. (1982). (ed). A Tachers Guide to The Special Educational Nedds Of Blinds and Visually Handicapped. New York: American Foundation for The Blind.

Mason, H dan McCall, S. (Eds). 1999. Visual Impairment: Acces to Education for Children and Young People. London: David Fulton Publisher.

Muhdar Munarwan dan Ate Suwandi. 2013. Mengenal dan Memahamo Orientasi dan Mobilitas: Luxima.

Purwaka Hadi. 2005. Kemandirian Tunanetra. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

 

Silahkan Berikan Komentar Anda