TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

APA PENGERTIAN TUNARUNGU ?

PENGERTIAN TUNARUNGUIstilah tunarungu atau ketunarunguan seringkali menimbulkan pengertian seseorang pada suatu individu yang tidak dapat mendengar, yang akhirnya disertai dengan pada suatu individu yang tidak dapat mendengar, yang akhirnya disertai dengan ketidakmampuan dalam berbicara yaitu bisu, gagap dan seolah-olah sebagai anak yang bodoh (debil, idiot). Ketunarunguan merupakan kecacatan atau berbicara. Dalam kaitannya dengan keadaan ini, Myklebust seperti yang diutarakan oleh Marck Marschark, secara lebih luas menggambarkan bahwa ketuarunguan merupakan suatu kecacatan inderawi yang membatasai dunianya. Dunia tunarungu terbatas karena adanya hambatan dalam bahasa, yang membatasi dunianya. Dunia tunarungu terbatas karena adanya hambatan dalam bahasa, secara keseluruhan berkurang maka terjadilah ketidakseimbangan proses psikologis pada umumya. Berkurangnya salah satu indera ini juga mengubah integrasi dan fungsi indera-indera lainnya.

BACA JUGA  KETERAMPILAN KOMUNIKASI TUNANETRA

Dalam era globalisasi dan persaingan pasar bebas seperti sekarang ini, terjadilah akselerasi dalam setiap segmen kehidupan, salah satunya dalam bidang pendidikan. Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi dapat mendorong terjadinya persaingan yang semakin tajam. Hal ini mengharuskan setiap pengelola pendidikan, khususnya pendidikan tunarungu, baik melalui penyelenggaraan pendidikan maupun dalam pendampingan sosial lainnya, hendaknya memiliki kompetensi secara profesional dalam pengelolaan pendidikan peserta didik tunarungu. Pola pendampingan dan pendidikan yang tepat dan bermartabat, akan menghantar peserta didik tunarungu ke masa depan yang lebih cerah.

Namun permasalahannya adalah pelaksanaan pendidikan bagi siswa tunaungu di beberapa lembaga pendidikan tunarungu hingga saat ini, nampaknya belum semua dapat menghantrakan oleh beberapa faktor, antara lain kualitas guru SLB, kurikulum dan sistem pembelajarannya, saran dan prasarana. Ketunarunguan sejak lahir akan menimbulkan berbagai permasalahan yang menyangkut seluruh hidup dan penghidupan penyandangnya. Boothryd lebih rinci memprediksikan maslaah yang akan muncul akibat ketunarunguan tersebut antara lain adalah : (1) masalah dalam hal perseptual, (2) masalah dalam hal komunikasi dan bahasa, (3) masalah dalam bidang kognitif, (4) masalah dalam bidang pendidikan, (5)masalah dalam bidang emosi, (6) masalah dalam bidang sosial, (7) masalah dalam hal memperoleh pekerjaan atau vokasional, (8) masalah bagi orang tua dan masyarakat. Prediksi tersebut dilatar belakangi suatu pemikiran bahwa anak tunarungu, karena sesuatu hal yang mengakibatkan hilangnya sebagian atau seluruh pendengarannya, sehingga bunyi atau suara yang dihasilkan oleh sumber bunyi menjadi kurang dalam jajaran manusia inelektual. Hal ini dipertegas oleh pengakuan Helen Keller, seorang penyandang tunarungu dan tunanetra, bahwa ketunarunguan merupakan musibah yang lebih buruk daripada ketunanetraan, karena kehilangan rangsangan yang paling vital, yaitu suara manusia yang membawa bahasa, yang dapat mengubah pikiran dan menempatkan seseorang dalam jajaran manusia intelektual. Dengan hilangnya kemampuan mendengar tersebut, maka anak tunarungu dapat disebut sebagai children with problem in learning yaitu anak dengan problema dalam belajar, yang membawa konsekuensi kepada children with special needs yakni anak dengan kebutuhan khusus. Ketunarunguan yang memiliki dampak kepada kemiskinan bahasa dan hambatan dalam berkomunikasi, dianggap menyulitkan orang lain termasuk dalam layanan pendidikannya. Sebagai individu yang merupakan sesama warga negara, peserta didik tunarungu juga memiliki hal yang sama dalam memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan yang mereka butuhkan, karena pendidikan itu merupakan suatu hal yang bersifat kodrati, alami dan manusiawi. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pendidikan merupakan salah satu hak dasar bagi setiap individu manusia, termasuk didalamnya anak tunarungu. Namun demikian, upaya untuk menempatkan peserta didik tunarungu sejajar dengan peserta didik yang mendengar, bukanlah hal yang mudah. Banyak variabel yang sangat berpengaruh dalam menyiapkan anak tunarungu untuk meraih masa depannya. Salah satu aspek penting dalam pendidikan untuk menyiapkan masa depan anak tunarungu adalah dengan adanya pola sistem layanan pendidikan tunarungu, dengan adanya layanan deteksi dan intervensi dini bagi peserta didik tunarungu, dengan memberikan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi secara tepat. Atas dasar analisis permasalahan tersebut, maka dalam tulisan ini akan dilakukan suatu kajian kritis tentang penataan pola pelayanan pendidikan dan pendampingan peserta didik tunarungu, mulai dari konsep pendidikannya yang ditinjau dari berbagai aspek, sampai pada tata kelola layanan pendidikan di sekolah luar biasa, sehingga diharapkan dapat membantu para guru dalam mempersiapkan masa depan mereka.

Tunarungu suatu istilah umum yang menunjukkan ketidakmampuan mendengar dari yang ringan sampai berat, digolongkan ke dalam tuli dan kurang dengar. Seseorang yang mengalami ketunarunguan adalah individu yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu dengar dimana batas pendengaran yang dimiliki masih memungkinkan keberhasilah proses informasi bahasa melalui pendengaran.

Terminologi lain tentang ketunarunguan yang dikemukankan oleh Uden (1977) didasarkan pada saat terjadinya ketunarunguan yang dikaitkan dengan taraf penguasaan bahasa, yaitu tuli pra bahasa (per lingually deaf), yaitu ketunarunguan yang diperoleh sebelum dikuasainya suatu bahasa (di bawah usia 1,6 tahun) dan tuli pra bahasa (post ligually dear), yaitu ketunarunguan yang diperoleh setelah mengusai suatu bahasa dimana penyandangnya telah menerapkan dan memahami suatu sistem lambang yang berlaku di lingkungannya.

Kesimpulannya bahwa ketunarunguan adalah individu yang mengalami kehilangan kemampuan dengar pada seluruh gradasi, baik ringan, sedang maupun setelah berbahasa dan khusus atau modifikasi layanan pendidikannya.

Referensi :

Drs. Marja, M. Pd dan Drs. Pamuji, M. Kes. 2018. Bahan Ajar Bimtek Peningkatan Kompetensi Guru PK 4 Bidang Kekhususan (Tunanetra,         Tunarungu, Tunagrahita, Dan Tunadaksa). Kementerian Pendidikan & Kebudayaan            Direktorat Jenderal Guru &  Tenaga Kependidikan Direktorat pembinaan Guru      Pendidikan Menengah.

Silahkan Berikan Komentar Anda