TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

BAGAIMANA PERAN SOSIAL BERPENGARUH?

PERAN SOSIAL     Bagaimana peran sosial bepengaruh? Teoritikus peran berasumsi, sebagaimana karakter Jaques dalam drama karya William Shakespeare yang berjudul As You Like It, bahwa kehidupan sosial seperti berakting dalam suatu panggung teatrikal, dengan keseluruhan adegan, topeng dan naskah di dalamnya. Peran-peran tersebut sangat terkait dengan konformitas. Peran-peran sosial memberikan kesempatan kebebasan dalam interpretasi bagi mereka yang menjalankan peran tersebut. Namun, beberapa aspek dari aspek dari setiap peran harus tetap ditampilkan. Seorang pelajar setidaknya harus muncul untuk mengikuti ujian, menyelesaikan tugas sekolah, dan mempertahankan nilai minimum.

Sedangkan pengertian dari Peran sosial adalah eksekusi dari hak, kewajiban, tugas, atau tanggung jawab seseorang yang sesuai dengan status sosialnya. Jika seseorang telah melaksanakan kewajiban dan meminta hak-haknya sesuai dengan status sosial yang disandangnya, dia telah menjalankan suatu peran yang benar/tepat. Peran berasal dari pola pergaulan hidup. Oleh karna itu, peran menentukan apa yang diberikan oleh masyarakat di sekitarnya. Peran diangap sangat penting karena mengatur perilaku seseorang yang berada di dalam masyarakat, berdasarkan norma berlaku di dalam masyarakat.

Ketika hanya terdapat sedikit norma yang diasosiasikan dengan suatu kategori sosial tertentu (misalnya, mereka yang akan menaiki eskalator harus berdiri di sebelah kanan  dan berjalan ke sebelah kiri), kita tidak memandang posisi tersebut sebagai suatu peran sosial. Diperlukan keseluruhan bagian dari norma untuk mendefinisikan sebuah peran. Saya dapat dengan siap menuliskan suatu daftar norma yang panjang dimana saya menyesuaikan peran saya sebagai seorang profesor atau seorang ayah. Meskipun saya dapat memperoleh gambaran tertentu diri aya dengan cara melanggar norma yang paling tidak penting (menilai efisiensi, saya hampir tidak pernah datang awal untuk acara apapun), menyalahi norma terpenting dari peran saya (tidak menghadiri kelas) dapat menjadikan saya dipecat.

Peran memiliki pengaruh yang kuat dan kita cenderung menyerap peran kita. Pada suatu kencan pertama atau suatu pekerjaan yang baru, anda  mungkin  memerankan peran anda secara sepenuhnya sadar. Anda mulai menginternalisasikan peran tersebut, maka kesadaran kita lamat laun akan menghilang. Apa yang semula terasa aneh sekarang terasa lebih wajar.

BACA JUGA  BAHASA NONVERBAL WANITA

Hal itu lah yang dialami oleh banyak imigran, para pekerja sosial, dan mahasiswa serta pekerja internasional. Setelah tiba di suatu negara baru, diperlukan waktu untuk mempelajari bagaimana cara berbicara dan berperilaku secara tepat dalam konteks yang baru tersebut, untuk melakukan penyesuaian, sebagaimana yang saya lakukan terhadap mahasiwa Jerman yang memukul-mukul meja mereka. Pengalaman paling umum dar mereka yang kembali ke negara mereka sendiri adalah kembali memasuki area dengan tekanan (Sussman, 2000 dalam Myers, 2014). Melalui cara yang mungkin tidak disadari oleh seseorang, proses menyesuaikan diri ini akan mengubah perilaku, nilai dan identitas seseorang untuk mengakomodasi suatu tempat yang berbeda. Seseorang harus kembali menyesuaikan diri dengan peran yang sebelumnya pernah mereka jalankan sebelum kembali meraih keseimbangan.

Kasus penculikan terhadap ratu media Patricia Hearst menggambarkan kekuatan dari permainan peran. Pada tahun 1974, ketika ia berusia 19 tahun, Hearst diculik oleh beberapa revolusioner muda yang menyebut mereka Symbionese Liberation Army (SLA). Tidak lama kemudian Hearst secara terbuka mengumumkan bahwa ia telah mengikuti para penculiknya dan meninggalkan kehidupan yang ia miliki sebelumnya, orangtuanya yang kaya raya, dan tuanangannya. Ia meminta orang-orang tersebut untuk “berusaha mengerti perubahan yang telah ia lewati.” Dua belas hari kemudian, sebuah kamera di bank merekam keterlibatannya dalam aksi perampokan yang dilakukan oleh SLA.

Sembilan bulan kemudian, Hearst ditangkap. Setelah dua tahun masa pemulihan dan “pemrograman kembali,” ia kembali memainkan perannya sebagai seorang ratu, menikah dengan baik dan menjadi seorang ibu di tengah kota connecticut serta menjadi penulis yang mendedikasikan banyak waktu untuk melakukan kegiatan sosial (Johnson, 1988; Schiffman, 1999 dalam Mayers, 2014). Jika Patricia Hearst pernah benar-benar menjadi revolusioner atau ia sekedar mengabaikan para penculiknya untuk menghindari hukuman, orang mungkin akan lebih mudah memahami perilakunya. Apa yang tidak dapat merek apahami (dan membuat cerita ini menjadi salah satu berita terbesar sepanjang tahun 1970-an) adalah bahwa sebagaimana yang ditulis oleh Philip Brickman (1979), “Ia dapat benar-benar menjadi seorang ratu, kemudian seorang revolusioner, kemudian kembali menjadi seorang ratu.”

Tindakan kita tergantung tidak hanya para kekuatan situasi. Namun, juga kepada kepribadian kita. Tidak setiap orang dapat merespons tekanan untuk menyeragamkan diri dengan cara yang sama. Dalam masalah Patricia Hearst, anda atau saya mungkin merespon secara berbeda. Meskipun demikian, kita telah melihat bahwa situasi-situasi sosial dapat menggerakkan orang yang paling “normal” sekalipun untuk berperilaku abnormal. Hal ini jelas  terlihat dalam eksperimen yang menempatkan apakah hasil yang baik atau buruk yang akan muncul. Sampai pada titik tertentu, terkadang hal buruklah yang menang. Orang yang baik sering kali tidak berakhir sebagai orang yang baik.

Dunia ini panggung sandiwara,

Dan setiap pria dan wanita hanyalah pemain di dalamnya,

Mereka memiliki waktu tersendiri untuk memasuki dan keluar dari panggung tersebut,

Dan seorang pria akan memainkan banyak bagian pada waktunya.

(William Shakespeare)

Referensi

Myers, David. 2014. Psikologi Sosial (Social Psychology) Edisi 10 Buku 1. Alih Bahasa     Aliya Tusyani dkk. Jakarta: Salemba Humanika.

 

Silahkan Berikan Komentar Anda