TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

 DIMENSI PERMUKIMAN MENURUT IRWIN ALTMAN

PERMUKIMANIrwin Altman (dalam Environmental Psychology; Principles and Practice) membuat karakteristik ke dalam 5 (lima) dimensi, yaitu :

  1. Permukiman yang memiliki ragam permanen dengan sementara. Permukiman yang permanen adalah penghuninya tinggal di permukiman tersebut dalam waktu yang lama. Permukiman yang permanen lebih menggambarkan rumah tinggal seseorang. Permukiman permanen ini dapat dilihat pada suatu daerah permukiman, seperti misalnya daerah Bintaro, Menteng (untuk daerah Jakarta) atau daerah Cigadung, Turangga(untuk daerah Bandung), atau daerah Darmo (untuk Surabaya) dan sebagainya. Namun demikian, dapat dilihat pada permukiman di kompleks Industri, seperti misalnya Cikampek, sementara, banyak dilihat di daerah peristirahatan, seperti villa, cottages atau daerah yang terkena bencana. Pada daerah bencana, dapat dijumpai permukiman sementara, seperti tinggal di tenda atau bedeng. Dengan demikian, daerah permukiman yang sementara tersebut, penghuninya tidak selamanya berada di tempat tinggal yang sementara tersebut.
  2. Permukiman yang homogen dan bervariasi. Pemahaman tentang permukiman yang homogen dapat memiliki beberapa makna, yaitu : Homogen dalam tipe, dan luas bangunan, sehingga dapat menggambarkan tingkat sosiak ekonomi dari penghuninya. Homogen dapat pula dimaknakan untuk Indonesia, adanya kesamaan dalam pekerjaannya, seperti permukiman militer, pegawai negeri dan sebagainya. Sedangkan permukiman yang bervariasi dapat pula dimaknakan sebagai variasi dalam bentuk rumah, jumlah ruang , ukuran rumah dan sebagainya. Dengan demikian, tingkatan sosial ekonomi akan mempengaruhi pada pola interaksi di antara penghuninya. Variasi penghuni rumah pada permukiman ini amat dimungkinkan. Pada permukiman yang bervariasi bentuk dan jumlah ruang akan menunjukkan tingkat sosial  ekonomi dan tingkah laku penghuni setiap harinya. Semakin banyak ruang dengan fungsi yang berbeda, maka penghuninya memiliki kemampuan ekonomi yang lebih, bila dibandingkan dengan rumah yang jumlah ruangnya terbatas. Tingkah laku penghuninya akan menggambarkan pula bagaimana interaksi antara sesama penghuni, tingkah laku privasi akan semakin dibuthkan pada penghuni rumah yang memiliki fungsi ruang yang berbeda.
  3. Permukiman yang bersifat komunal dan yang bukan komunal. Permukiman komunal masih dapat dijumpai pada kelompok masyarakat yang tinggal di rumah besar atau di Sumatra Barat di sebut sebagai rumah gadang. Pada rumah besar tersebut terdiri dari beberapa keluarga yang tinggal di satu rumah besar. Beberapa keluarga tersebut dapat merupakan keluarga besar yang memiliki hubungan saudara, atau keluarga yang tidak memiliki kaitan saudara. Sedangkan, pada permukiman yang bukan komunal, akan terlihat penghuninya adalah keluarga inti. Namun demikian, fenomena yang dapat terjadi pada masyarakat Indonesia, suatu unit rumah yang tidak besar, dihuni oleh keluarga inti dan kerabatnya.
  4. Permukiman yang memiliki ciri identitas dan komunal. Di Indonesia dapat dilihat permukiman yang mempunyai ciri khusus atau identitas. Permukiman yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki pekerjaan yang sama, seperti permukiman dosen. Demikian pula dengan permukiman yang berlatar belakang budaya, seperti misalnya daerah “pecinan”. Permukiman yang dihuni oleh masyarakat berasal dari China atau keturunan China. Di beberapa negara masih daoat dilihat permukiman “China Town”. Bentuk rumah dan budaya China dapat terlihat dengan jelas, bahwa daerah tersebut adalah daerah permukiman orang-orang yang memiliki asal usul dari China. Rumah-rumah adat yang merupakan permukiman yang komunal dapat menjelaskan tentang masyarakat daerah tersebut.
  5. Permukiman yang terbuka dan tertutup. Terbuka atau tertutupnya permukiman dapat dilihat dari tata letak permukiman tersebut dan bentuk rumah yang menggunakan pagar atau tidak ada pagarnya. Permukiman  yang berada di jalan besar, pada umumnya bersifat terbuka. Orang lain dengan mudah berlalu lalang di daerah permukimannya. Namun demikian, permukiman yang khusus sering kali bersifat tertutup, sehingga orang luar permukiman tersebut tida terlampau bebas untuk keluar masuk permukiman. Bahkan ada pula permukiman tertutup dengan tata letak “cul de sac”, yaitu perumahan yang tertutup. Namun demikian, tertutupnya suatu permukiman, akan memudahkan pada aspek keamanan permukiman. Sedangkan pada permukiman yang terbuka relatif agak sulit dalam aspek keamanannya. Demikian pula dengan rumah yang tidak menggunakan pagar dengan yang menggunakan pagar, maka aspek keamanan perlu mendapatkan perhatian.
BACA JUGA  DIMENSI RUMAH MENURUT ROBERT GIFFORD

Referensi :

Iskandar, Zulrizka. 2013. Psikologi Lingkungan (Metode dan Aplikasi). Bandung: PT. Refika Aditama

 

Silahkan Berikan Komentar Anda