TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

FENOMENA BALAS DENDAM ANAK REMAJA

fenomena balas dendamHalo sahabat ranah, banyak diantara kita pernah menjalani hubungan dengan lawan jenis atau biasa disebut pacaran. Tidak sedikit pula yang mengalami putus ditengah jalan. Lalu, bagaimana dengan seorang mantan yang tidak dapat menerima keputusan untuk pisah? hal ini disebabkan adanya perselingkuhan. Balas dendam apakah hal yang baik untuk diri kita?

Ayoo, kita simak pembahasan dari fenomena balas dendam seorang pacar bila dikaitkan dengan psikologi.

Teori yang digunakan

Dalam mengembangkan kasus ini, penulis menggunakan Teori Harry Stack Sullivan pada subbab : Disjungsi (pemisahan diri), tahap perkembangan childhood (masa kanak – kanak  umur 18 bulan sampai 5 th) dan tahap perkembangan early adolescence ( masa remaja awal , antara 13 – 17 th ) .

Harry Stack Sullivan berpendapat bahwa kehidupan khas manusia adalah interaksi sosial sedangkan kepribadian adalah suatu ilusi yang tidak dapat diobservasi atau diteliti , terlepas dari situasi – situasi pribadi yang menjadi unit penelitian .

  • Disjungsi ( pemisahan diri )

Adalah perilaku – perilaku  merusak yang berhubungan dengan dendam . kedendaman merupakan dinamisme yang ditandai dengan kejahatan dan kebencian , dicirikan oleh perasaan seperti hidup di tengah – tengah musuh . Rasa dendam berasal dari pengalaman buruk yang mengharapkan kelembutan ibu ditolak , diabaikan , atau berhadapan dengan rasa cemas dan rasa sakit . Bentuk dinamisme kedendaman ini dapat juga diekspresikan melalui tindakan kecemasan , pemalu , kenakalan , dan bentuk – bentuk perilaku sosial atau antisosial .

  • Childhood (masa kanak – kanak , usia 18 bulan sampai 5 th)

Tahap anak dimulai dengan perkembangan bicara dan belajar berfikir sintaksis, serta perluasan kebutuhan untuk bergaul dengan kelompok sebaya.

Cirri khas perkembangan balita :

  1. Pertambahan berat badan menurun , sebab balita menggunakan banyak energy untuk bergerak adalah perkembangan fisik .
  2. Terjadi pembedaan diri dengan orang lain adalah perkembangan psikologis.
  3. Semakin baiknya penguasaan terhadap tangan dan kakinya adalah perkembangan psikomotor .

Selain orang tua , anak – anak yang berusia prasekolah seringkali memiliki hubungan signifikan yang lain dari seorang teman imajiner. Teman identik ini memampukan anak memiliki hubungan yang aman dan nyaman yang menghasilkan sedikit rasa cemas. Anak – anak yang berusia prasekolah bercakap – cakap dengan teman imajiner itu , memanggilnya dengan nama tertentu, bahkan mungkin mendesak orang tuanya untuk menyediakan tempat tambahan di meja makan, mobil atu tempat tidur untuknya. Teman imajiner bukan tanda ketidakstabilan atau patologis , melainkan peristiwa positif yang dapat membantu anak – anak menjadi siap untuk menjalin keintiman dengan teman yang riil selama tahap pararemaja nanti. Sullivan juga menyebutkan masa kanak – kanak sebagi periode akulturasi yang cepat. Selain menguasai bahasa , anak – anak juga belajar pola – pola budaya kebersihan dan peran yang diharapkan dari setiap jenis kelamin .

  • Early adolescence ( masa remaja awal , antara 13 – 17 tahun )

Masa ini mulai dari pubertas dan berakhir dengan kebutuhan akan cinta seksual terhadap seseorang. Selain itu, kebutuhan untuk bebas dari rasa cemas, masih tetap aktif selama periode ini. Dengan begitu keintiman, nafsu, dan rasa aman sering kali tumpang-tindih dan mengakibatkan stress dan konflik bagi remaja muda, dengan cara yaitu :
Pertama, nafsu mengganggu operasi-operasi rasa aman karena aktivitas genital sering kali berakar pada rasa cemas, rasa bersalah, dan rasa dipermalukan.
Kedua,  keintiman juga dapat mengancam rasa aman, seperti saat para remaja muda mencari persahabatan dengan lawan jenisnya.Upaya-upaya ini dibebani keraguan-diri, perasaan tidak pasti dan perasaan dibodohi orang lain, yang dapat mengarah pada kehilangan percaya diri dan meningkatnya kecemasan.

Ketiga, keintiman sering kali berkonflik dengan nafsu selama masa remaja-awal. Meskipun teman-teman intim dengan rekan sebaya yang setara statusnya masih penting, namun, tegangan-tegangan genital yang kuat mendesak untuk dipuaskan tanpa didasarkan pada kebutuhan akan keintiman. Pribadi dapat keluar dari tahapan ini entah dengan dominasi keintiman dan dinamisme nafsu, atau menghadapi kesulitan-kesulitan serius dalam hubungan antarpribadi selama tahapan-tahapan berikutnya. Meskipun penyesuaian seksual penting bagi perkembangan kepribadian, Sullivan merasa bahwa masalah yang riil terletak dalam jalan-bersama dengan pribadi lain.

Remaja itu idealis, ia memandang dunia seperti apa yang dia inginkan bukan sebagaimana adanya. Pada masa ini disebut periode pemantapan identitas diri. Namun, hal itu tidak selalu berjalan mulus akan sering mengalami proses yang panjang dan bergejolak. Ciri-ciri perilaku yang menonjol terutama pada perilaku sosialnya.

BACA JUGA  PATOLOGI ANAK DAN REMAJA

Fenomena Perilaku

Sewaktu  Mitha duduk dibangku SMP. Dia mengalami konflik dengan mantan pacarnya yang menyebabkan dia mempunyai rasa balas dendam.  Berawal dari cinta Roby dan Mitha saling percaya satu sama lain, suka dukapun mereka lewati bersama kenangan-kenangan terindah yang tidak bisa dia lupakan. Tiga bulan sudah Roby dan Mitha menjalin cinta. Namun, semua itu sia-sia mereka bangun, saling menyalahkanpun terjadi, dan berdampak pada hubugan mereka yaitu kandas ditengah jalan (putus). Karena Roby telah selingkuh dengan teman Mitha sendiri yaitu Eva, sakit yang Mitha rasa sejak kejadian itu sehingga rasa ingin balas dendampun tidak terbendung lagi. Mitha mempunyai niat licik pada hubungan mereka (balas dendam) Mitha ingin hubungan yang di jalin Roby dan Eva juga seperti apa yang terjadi pada hubungan Mitha dulu dengan cara menjelek-jelekan Roby kepada teman-temannya di sekolah agar di mata teman-temannya Roby di cap sebagai cowok yang tidak baik dan tidak bertanggung jawab, kata-kata itu terdengar ke telinga Eva, sejak itulah Eva menjadi ilfil kepada Roby. Robypun bingung “mengapa hubungan ku seperti ini” ujarnya, kemudian ia tahu semua itu ulah Mitha, Roby pun meminta maaf pada Mitha atas kesalahan yang dahulu ia lakukan. Perlahan-lahan seseorang yang dekat dengan Mitha menjauhi karena kecewa dengan apa yang Mitha lakukan. Rasa bersalahpun Mitha rasakan, ia merasa cemas dan takut ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Tetapi Mitha yang dikejar-kejar rasa bersalah belum cukup berani mengakui semua kesalahannya dan meminta maaf. Ia merasa gengsi untuk melakukan itu sebab pemikirannya selama ini adalah ia hidup untuk kesenangan dan bagaimanapun ia harus  mencapainya.

Pembahasan

Perilaku yang dilakukan Mitha bila dilihat dari teori Sullivan, suatu perilaku yang dilatar belakangi dari pengalaman buruk yang pernah ia rasakan pada usia 2 – 3 tahun saat ia mengharapkan kelembutan dari ibu. Ditolak, diabaikan, atau berhadapan dengan rasa cemas. Sehingga dapat berkelanjutan bila ia merasakan rasa sakit, seperti halnya yang ia lakukan saat duduk di bangku SMP. Ia melakukan balas dendam karena merasa tersakiti oleh mantan pacarnya, tidak peduli bila perilakunya itu menyakiti orang – orang disekitarnya apalagi dengan mantan pacarnya. Pemikirannya bahwa dendam itu harus terlaksanakan apapun caranya tanpa harus memikirkan akibat dari perilakunya itu. Setelah dendamnya terlaksana, satu persatu seseorang yang dekat dengan mitha pergi menjauh.

Sullivan memandang fenomena ini sebagai suatu perilaku sosial yang ditunjukkan oleh anak-anak pada masa remaja awal. Sehingga saat teman-temannya mulai meninggalkannya termasuk kekasihnya, ia baru menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak bisa diterima oleh lingkungan sosialnya. Ia tidak bisa lagi memenuhi kebutuhannya akan cinta dan kasih sayang orang-orang disekitarnya. Disisi lain, ia enggan meminta maaf karena rasa gengsi dalam dirinya. Tetapi semakin lama ia semakin takut dan cemas memikirkan hal yang belum terjadi saat semua orang benar-benar meninggalkannya. Kepercayaan Mitha pun semakin runtuh karena ia merasa bersalah pada semua orang – orang disekitarnya.

Perilaku Mitha merupakan contoh  dari ungkapan Sullivan yang mengatakan bahwa :

  • Bentuk kedendaman dapat diekspresikan melalui tindakan kecemasan, pemalu, kenakalan, dan bentu – bentuk perilaku sosial atau antisocial.
  • Dendam yang berawal dari pengalaman buruk saat ia berumur 2 – 3 tahun memiliki tampilan transformasi jahat adalah perasaan bahwa dirinya hidup ditengah – tengah musuh, sehingga hidupnya penuh rasa curiga dan tidak percaya bahkan sampai tingkah laku yang paranoid.
  • Remaja awal memandang dunia secara idealis, selalu ingin semua terjadi sesuai dengan pemikiran/keinginanannya bukan memandang sebagaimana adanya.

Refrensi

Hall Calvin S dan Gardner Lindzey .1993. Psikologi Kepribadian 1. Editor Dr. A. Supratiknya.Yogyakarta.Kanisius.

 

Silahkan Berikan Komentar Anda