TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN EKSPERIMEN

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PENELITIAN EKSPERIMENPenelitian eksperimen, khusus dalam bidang psikologi terdapat keunggulan atau kelebihan jika dibandingkan dengan penelitian lainnya.

Keunggulan Pertama

Eksperimen didesain untuk dapat mengendalikan secara ketat pada variabel-variabel ekstra yang tidak  berhubungan dengan variabel yang sedang diamati. Kita memahami bahwa terbentuknya suatu perilaku terutama pada manusia sangatlah kompleks dan bersifat multifaktorial. Dengan eksperimen kita berusaha mengamati pembentukan suatu perilaku dengan memberikan suatu stimulus yaitu variabel bebas, dan mengendalikan berbagai variabel-variabel yang tidak kita harapkan ikut serta mempengaruhi terbentuknya suatu perilaku. Karena itulah, dari segi pengendalian variabel, penelitian eksperimen memiliki keunggulan dibandingkan dengan penelitian lainnya.

Keunggulan Kedua

Penelitian eksperimen memiliki efesiensi yang tinggi. Penelitian eksperimen dapat dilakukan pada populasi yang terbatas, sehingga tidak membutuhkan banyak subjek untuk terlibat dalam proses eksperimen. Suatu eksperimen diketahui memiliki pengaruh yang kuat memerlukan partisipan yang tidak terlalu besar, sehingga akan meringankan kerja eksperimen. Hal ini berbeda dengan penelitian survei yang seringkali membutuhkan sampel dalam jumlah besar.

BACA JUGA  PERKEMBANGAN PENELITIAN EKSPERIMEN

Sekalipun eksperimen memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan jenis penelitian lainnya, sejumlah kritik juga dialamatkan ke penelitian eksperimen.

Kritik dan sekaligus sebagai kelemahan penelitian eksperimen adalah:

  1. Hasil penelitian eksperimen (khususnya laboratorium) dipandang tidak selalu sejalan dengan keadaan di lapangan, karena terdapat sejumlah variabel yang dikendalikan. Kenyataannya, dalam kehidupan yang nyata, perilaku manusia sangatlah kompleks, yang tidak mungkin hanya diamati dari aspek variabel-variabel yang  sangat sederhana. Penelitian eksperimen terlalu menyederhanakan “permasalahan” perilaku manusia, yang sebenarnya terdapat proses mental yang sangat kompleks. Atas dasar pandangan ini dipertanyakan apakah mungkin proses mental yang kompleks itu diteliti secara sederhana.
  2. Metodologi eksperimental diadopsi dari logika positivisme dan ilmu alamiah yang diterapkan pada ilmu perilaku. Menurut humanisme, terdapat paradigma yang berbeda antara kondisi alam dengan perilaku manusia, sehingga metode mempelajarinya juga berbeda. Dipandang tidak tepat mempelajari manusia dengan menggunakan prinsip-prinsip alamiah.
  3. Beberapa variabel secara moral atau hukum tidak dapat diamanipulasi, misalnya manipulasi dalam bentuk menghilangkan interaksi sosial secara permanen, merangsang timbulnya perilaku seksual. Contoh-contoh tersebut secara moral tidak dibenarkan dilakukan eksperimen.
  4. Sekalipun secara moral atau legal dapat dilakukan, tetapi secara ekonomi atau teknik pengetahuan tidak memiliki sumber yang memadai. Misalnya, dampak kepemilikan mobil baru pada minat membaca iklan mobil. Tidak mungkin peneliti psikologi melakukan random keapada sejumlah subjek dan memberi mobil baru untuk penelitian.
  5. Tidak mungkin menggunakan ukuran absolut (absolute size) dari skor pada pengukuran variabel terikat dalam eksperimen untuk menggambarkan kesimpulan tentang bagaimana variabel-variabel ini dapat kita terapkan pada situasi lain. Dengan kata lain, ada kesulitan untuk melakukan generalisasi terhadap situasi lain secara pasti dari hasil suatu eksperimen.

Referensi :

Latipun. 2011. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press

 

Silahkan Berikan Komentar Anda