TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

KONTAK FISIK (MENYENTUH ATAU TIDAK MENYENTUH)

KONTAK FISIK (MENYENTUH ATAU TIDAK MENYENTUH)Seberapa jauhkah kontak fisik  sebaiknya dilakukan dalam percakapan sosial atau percakapan bisnis? Di Indonesia, kita menghendaki kontak fisik, terutama diantara lelaki dewasa. Kontak fisik paling umum adalah berjabat tangan, dan di bandingkan dengan orang-orang Eropa dan Amerika, kita melakukannya lebih sedikit.

Jabat tangan adalah bentuk sapaan atau cara menyatakan perpisahan yang paling impersonal. Di Amerika latin, cara yang lebih ramah adalah dengan meletakkan tangan kiri di atas bahu orang lain ketika berjabat tangan. Cara yang lebih intim dan hangat adalah doble abzaro dua lelaki berpelukan dengan meletakkan lengan mereka di atas kedua bahu masing-masing. Bagi orang Amerika utara sulit menerima kontak fisik berupa meletakkan telapak tangan pada lengan selama percakapan. Bagi mereka cara ini dapat berarti isyarat yang tidak menyenangkan, mungkin semacam isyarat seksual yang menghambat komunikasinya.

Edward T Hall dalam Devito (1997:197), membedakan empat macam jarak yang menurutnya menggambarkan macam hubungan yang dibolehkan. Masing-masing dari keempat ini mempunyai fase dekat dan fase jauh, sehingga ada delapan macam jarak yang dapat diidentifikasi: jarak intim (intimate distance), mulai dari fase dekat 0 sampai 15 cm (bersentuhan) sampai ke fase jauh sekitar 15 sampai 45 cm.

BACA JUGA  CIRI-CIRI PENOLAKAN DAN PENERIMAAN SOSIAL

Jarak pribadi (personal distance), kita semua memiliki daerah yang kita sebut jarak pribadi. Daerah ini melindungi kita dari sentuhan orang lain, dalam fase dekat jarak pribadi ini antara 45 sampai 75 sampai 120 cm.

Jarak sosial (social distance) fase dekat dari 120 sampai 210 cm adalah jarak yang di gunakan bila melakukan pertemuan bisnis dan interaksi  pada pertemuan bersifat sosial. Fase jauh 210 sampai 360 cm jarak yang kita pelihara bila seseorang berkata “menjauh agar saya dapat memandangmu.” Pada jarak ini, transaksi bisnis mempunyai nada yang lebih resmi.

Jarak publik (public distance), fase dekat 360 sampai 450 cm pada jarak ini seseorang dapat mengambil tindakan defensif bila terancam. Dalam bis kota atau kereta kita akan menghindar atau mengambil jarak dari orang yang sedang mabuk atau orang yang di anggap kurang baik. Fase jauh lebih dari 750 cm, kita melihat orang-orang tidak sebagai individu yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari suatu kesatuan yang lengkap. Kita kadang-kadang secara refleks menjauh ketika ada seorang tokoh (orang) penting lewat, terlepas dikawal atau tidak.

Meskipun demikian, terdapat budaya-budaya yang lebih membatasi kontak fisik daripada budaya Amerika Utara. Seorang Amerika di sebuah pesta cocktail di jawa ia telah melanggar bata-batas budaya setempat. Ia bermaksud mengembangkan hubungan bisnis dengan seorang jawa terpandang, yang tampaknya akan berjalan mulus. Namun, ketika pesta berakhir, berakhir pula rencana yang memberi harapan itu, padahal ia sudah menunggu pertemuan kedua selama enam bulan. Akhirnya ia mengetahui lewat orang lain, bahwa di pesta itu ia telah meletakkan lengannya sesaat di atas bahu orang jawa dan di hadapan orang-orang lain. Dalam kasus tersebut, si Amerika meminta maaf, namun hubunga bisnis tersebut tidak pernah terlaksana.

Referensi :

Sihabuudin, Ahmad. 2013. Komunikasi Antar Budaya (Satu Perspektif Multidimensi. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Silahkan Berikan Komentar Anda