TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

KORELASI BUDAYA DAN HARGA DIRI

Korelasi Budaya dan Harga Diri“Seseorang butuh untuk mengolah semangat dengan mengorbankan saya yang kecil untuk mencapai keuntungan saya yang besar” — Pepatah Cina.

Bagaimana harga diri seseorang yang berada dalam buadaya koletivitas dengan seseorang yang berada dalam kebudayaan individualistik? Pada bagian ini kita akan membahas mengenai budaya dan harga diri. Pada budaya kolektivitas harga diri berkolerasi dekat dengan “apa yang orang lain pikirkan tentang saya dan kelompok saya.” Konsep diri bersifat lunak (konteks khusus) bukannya stabil (bertahan di situasi apa pun). Pada sebuah penelitian empat dari lima mahasiswa kanada setuju bahwa “keyakinan yang anda pegang tentang siapa dirimu (inner self anda) tetap sama di segala domain aktivitas yang berbeda-beda” (Tafarodi & dkk, 2004).

Bagi yang ada dalam kebudayaan individualistik, harga diri lebih bersifat personal dan tidak terlalu berkaitan dengan hubungan-hubungan. Ancamlah identitas personal kita, maka kita akan merasa lebih marah dan murung dibandingkan ketika seseorang mengancam identitas kolektif kita (Gaertner & dkk, 1999). Tidak seperti orang Jepang yang bekerja lebih keras pada suatu tugas ketika mereka gagal (tidak ingin membuyarkan harapan orang lain), orang-orang di negara yang individualis bekerja lebih keras ketika mereka sukses karena kesuksesan dapat mempertinggi harga diri (Heine & dkk, 2001). Individualis Barat suka melakukan perbandingan dengan orang lain yang dapat melejitkan harga diri mereka. Kolektivitas Asia membuat perbandingan (sering kali ke atas dengan mereka yang melakukan dengan lebih baik) dengan cara-cara yang memfasilitasi peningkatan diri (White & Lehman, 2005).

BACA JUGA  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA DIRI

Bagi mahasiswa Jepang, kebahagiaan datang bersamaan dengan ikatan sosial yang positif, merasa dekat, ramah, dan hormat. Bagi mahasiswa Amerika, kebahagiaan lebih sering datang bersama emosi yang lepas, merasa efektif, superior dan bangga (Kitayama & Markus, 2000). Konflik dalam budaya kelektivitas sering kali terjadi antar kelompok. Budaya individualis melahirkan lebih banyak konflik dan kriminalitas dan perceraian) antar individu (Triandis, 2000).

Ketika Timur bertemu Barat. Misalnya, sebagaimana yang terjadi, kita berterimakasih pada pengaruh barat di dalam daerah wilayah Jepang dan pada mahasiswa pertukaran dari Jepang yang berkunjung ke negara Barat. Apakah konsep diri menjadi lebih terindividualisasi? Apakah orang Jepang terpengaruh ketika diperlihatkan pada mereka promosi Barat yang didasarkan pada prestasi individu dengan peringatan untuk “yakin pada peluang diri sendiri” dan dengan film-film di mana petugas polisi secara individual menangkap penjahat secara heroik walaupun tanpa campur tangan orang lain? Hal tersebut dapat terjadi, kata Steven Heine dan para penelitiannya (1999). Harga diri pribadi meningkat di antara para mahasiswa pertukaran dari Jepang setelah menghabiskan tujuh bulan di University of British Columbia. Di Kanada, harga diri individual juga lebih tinggi.

Referensi

Myers, David. 2014. Psikologi Sosial (Social Psychology) Edisi 10 Buku 1. Alih Bahasa     Aliya Tusyani dkk. Jakarta: Salemba Humanika.

Silahkan Berikan Komentar Anda