TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

PATOLOGI ANAK DAN REMAJA

Patologi Anak dan Remaja
Analisis
“Positive Psychotherapy Untuk Menurunkan Tingkat Depresi”

Disusun Oleh :
1. Ayu Agustin
   2. Anisa Nuraini
       3. Riska Ismi Fitria
  4. Lilik Hidayati
  5. Laily Firdausi
      6. Agus Hariyanto

psikologi klinis

KELAS VI A
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS TRUNOJOYO
2015

Kata Pengantar

Puji syukur penulis haturkan kepada SWT yang senantiasa memberi rahmat, taufik dan hidayahnya terutama kemampuan berfikir sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Patologi Anak dan Remaja. Penulis sangat menyadari bahwa tugas ini tidak mungkin terselesaikan tanpa dukungan, bimbingan dan do’a dari berbagai pihak selama penyusunan tugas ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Zaki Nur Fahmawati, S.Psi.,M.Psi.,Psi. selaku dosen pengampu mata kuliah Patologi Anak dan Remaja.

Penulis menyadari bahwa tugas ini masih terdapat banyak kekurangan. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk kesempurnaan di tugas mendatang. Harapanya semoga tugas ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai tambahan informasi bagi semua pihak yang membutuhkan.

Positive Psychotherapy Untuk Menurunkan Tingkat Depresi

A. Gambaran Kasus
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil 2 (dua) orang perempuan yang memenuhi karakteristik simtom-simtom dari depresi. Dimana yang pertama adalah subyek SW dan yang kedua adalah subyek IW. Kondisi subyek SW menganggap bahwa perma¬salahan yang dialaminya saat ini karena ke¬salahannya. Oleh karena itu, subyek merasa kesedihan sepanjang waktu dan merasa hanya mendapatkan sedikit kesenangan dari hal-hal yang biasanya dilakukan. Kondisi fisik dan psikologisnya juga menurun sehingga mun¬cul emosi-emosi yang negatif seperti, adanya perubahan selera makan, menangis lebih dari biasanya dan subyek juga merasa lebih mu¬dah tersinggung dibanding biasanya.

BACA JUGA  SELAYANG PANDANG PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Subyek menganggap dirinya tidak berarti atau kurang memiliki makna hidup dan merasa kesulitan untuk membuat keputusan karena permasa¬lahan tersebut sehingga subyek merasa pesimis akan masa mendatang. Sedangkan kondi¬si subyek IW merasa mungkin permasalahan ini hukuman baginya dan subyek juga menya¬lahkan diri sendiri atas kejadian buruk yang terjadi. Dalam kehidupan sehari-hari muncul emosi-emosi negatif, subyek merasa apapun yang dilakukannya itu dianggapnya salah sehingga subyek merasa sangat sedih dan ti¬dak dapat menahannya. Subyek juga mengala¬mi penurunan kondisi fisik dan psikologisnya, subyek merasa kekurangan energi sehingga dirasakan mudah lelah dibanding biasanya, subyek juga mengalami perubahan pola tidur dan perubahan selera makan.

B. Teori yang Digunakan
     1). Depresi
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapatkan perhatian serius. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan tingkah laku serta kognisi bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997; Nevid, Rathus, &Greene, 2005; Lubis, 2009). Depresi memiliki beberapa penyebab, dan salah satu yang terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk mengalami kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami kesulitan dalam fungsi sosial,

pekerjaan dan kehidupan sehari-hari (Stice, Ragan & Randall, 2004; Bitsika, Sharpley, & Melhem, 2010; Callahan, Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012).Faktor penyebab dari depresi yaitu faktor biologis, faktor genetika dan faktor psikososial. karakteristik utama individu yang depresi adalah adanya distorsi negatif. Kondisi tersebut akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku dan kognitif serta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri individu (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997).

Orang yang mengalami depresi akan memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kecemasan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai dengan berbagai gejala fisik. (Korff & Simon, 1996; National Academy on an Aging Society, 2000; Dooley, Prause, & Hamrowbottom, 2000; Sharp &Lipsky, 2002; Eby & Eby, 2006; Arcache, & Tordjman, 2012).Depresi dibagi menjadi tiga kategori yaitu depresi ringan yang dapat dipulihkan secara efektif, baik menggunakan obat ataupun dengan psikoterapi. Sedangkan tingkat depresi sedang sampai depresi berat mungkin memerlukan obat dan menggabungkan pendekatan psikoterapi.

BACA JUGA  GEJALA STRES KERJA

     2). Positive Psychotherapi
Pada awal tahun 2005, mulai dikembangkan Positive Psychotherapy untuk mengatasi. Positive Psychotherapypernah dilakukan melalui website berbayar dengan memberikan tugas-tugas latihan selama satu minggu secara acak kepada pengguna web yang mengalami depresi. Hasil dari terapi tersebut dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupan (Seligman, Rashid, & Parks, 2006).

Positive Psychotherapy merupakan suatu strategi terapi terstruktur dan sistematis yang menggabungkan pendekatan transkultural, psikodinamika dan cognitive behavioural untuk memahami dinamika konflik yang dialami subyek serta terfokus pada upaya mem-bangun potential human strengths diri subyek (Peseschkian, 1997). Positive Psychotherapy sebagai suatu intervensi untuk menangani berbagai gangguan klinis dengan tujuan membangun emosi positif, kekuatan karakter, dan kebermaknaan sehingga dapat meniadakan atau mencegah munculnya kembali gangguan tersebut di masa mendatang (Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006).

Depresi pada prinsipnya dapat dipulihkan secara efektif tidak hanya dengan mengurangi gejala negatif dan menurunkan tingkatan depresi, tetapi juga dengan membangun emosi positif, kekuatan karakter, dan makna. Positive Psychotherapy kemungkinan akan dapat menetralkan gejala negatif dan dapat memperkuat karakter individu (Seligman, Steen, Park, &Peterson, 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006; Snyder, & Lopez, 2007).

C. Intervensi / Treatmen yang Dilakukan
Instrumen pengumpulan data dalam peneliti¬an ini menggunakan metode observasi yaitu dengan cara mengamati perilaku yang menjadi sasaran dalam penelitian dan menggunakan metode wawancara yaitu sebagai penegak di¬agnosis subyek, untuk membentangkan gejala yang dialami subyek dan untuk mengetahui latar belakang terjadinya masalah atau gang-guan dan menemukan harapkan subyek un¬tuk kehidupan kedepannya. Beck Depression Inventory II (BDI-II) digunakan untuk mengukur tingkat keparahan depresi. Instrumen tersebut juga valid dan menjadi standar un¬tuk pasien non psikiatris. Pengukuran BDI-II dilakukan saat sebelum intervensi, setelah intervensi dilakukan dan pasa sesi follow up. BDI-II terdiri dari 21 item yang masing-masing terdiri dari empat pernyataan.

Skor-skor subskala dapat dihitung untuk faktor kognitif-afektif dan faktor penampilan soma¬tik. Subskala kognitif-afektif mengevaluasi perasaan dan pikiran, terdiri dari total jum¬lah skor 13 item yang pertama. Sedangkan subskala penampilan somatic terdiri dari 8 item terakhir (Aldiansyah, 2008; Campbell, Roberti, Maynard, & Emmanuel, 2009). Setiap kategori gejala pada skala terdiri dari empat “penilaian diri” item. substansi dinilai antara 0-3 poin. Skor tertinggi yang dapat diterima dari skala adalah 63. Distribusi skor yang di¬berikan pada diagnosis depresi adalah sebagai berikut: depresi pada tingkat ringan (14- 19 poin), depresi pada tingkat sedang (20-28 poin), dan depresi pada tingkat penting atau berat (29-63 poin) (Steer, Ball, & Ranieri, 1999; DeRubeis, Gelfand, Tang, & Simons, 1999; Sharp & Lipsky, 2002; Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Izgar, 2009).

Dari uji reliabilitas terhadap penilaian psikometri BDI-II di¬peroleh konsistensi internal alpha .94 (Arnau, Meagher, Norris, & Bramsom, 2001).
Intervensi dilakukan selama tiga minggu yang terdiri dari enam sesi. Intervensi ini berfokus pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki subyek dan meningkatkan sikap yang positif dengan cara membangun hidup yang menyenangkan (the pleasant life), hidup yang mengikat pada aktivitas atau adanya keterlibatan dalam kehidupan (the enganged life), dan hidup yang lebih bermakna (the meaningful life). Penekanan pada tiga indikator tersebut dibagi menjadi dua sesi perindikator. Pada tahap evaluasi, peneliti melakukan pengukuran kembali menggunakan BDI-II setelah intervensi selesai dilakukan. Selanjutnya melakukan evaluasi intervensi dengan mendiskusikan tentang pandangan dan perasaan subyek tentang kegiatan intervensi yang sudah dilakukan.

D. Pendapat Kelompok Mengenai Intervensi yang Diberikan
Menurut kelompok kami intervensi yang dilakukan peneliti sudah tepat. Hal tersebut berdasarkan hasil analisis yang dijelaskan bahwa adanya penurunan gejala depresi yang dialami kedua subyek setelah intervensi di¬laksanakan maupun saat follow up dari depresi tingkatan sedang menjadi tingkatan yang paling rendah, sehingga kondisi kedua subyek dalam keadaan stabil. Faktor yang mengalami penu¬runan selama intervensi yaitu faktor kognitif afektif dan faktor somatik. Berdasarkan keselu¬ruhan hasil penelitian, Positive Psychotherapy dinyatakan efektif untuk menurunkan gejala gangguan depresi.

Silahkan Berikan Komentar Anda