TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

PENGERTIAN RESILIENSI

KONSEP RESILIENSIHalo sahabat ranah, disini kami akan berbagi informasi mengenai konsep resiliensi. Sebelumnya sahabat tahu apa itu resiliensi?

  1. Definisi Resiliensi

Ada berbagai definisi tentang resiliensi, meskipun belum ada persamaan pendapat mengenai definisi tersebut, namun untuk memahami konsep tersebut dapat dikutip beberapa definisi yang telah dirumuskan oleh sejumlah ahli.

Menurut Desmita (2005) resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan, dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, atau bahkan mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.

Sementara itu Sagor (dalam Patilima, 2015) mendefinisikan resiliensi sebagai kumpulan atribut yang ada pada seorang individu dengan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi hambatan besar yang mengikat kehidupannya.

Secara sederhana Glantz (dalam Patilima, 2015) menyebutkan konsep resiliensi secara umum sebagai suatu proses dinamis individu yang menunjukkan fungsi adaptif dalam menghadapi kesulitan yang signifikan.

Resiliensi disebut juga oleh Peters dkk (dalam Patilima, 2015) sebagai cara seorang individu mewujudkan kompetensi dalam konteks tantangan yang signifikan untuk beradaptasi.

Berdasarkan beberapa definisi para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari keterpurukan yang terjadi pada dirinya, sehingga bisa beradaptasi secara positif dengan keadaan lingkungan sekitar serta bisa menjalankan kehidupan seperti biasanya.

  1. Ciri-ciri Resiliensi

Seperti halnya dalam memberikan definisi, para ahli juga berbeda pendapat dalam merumuskan ciri-ciri yang dapat menggambarkan karakteristik seorang yang resilien. Bernard (dalam Desmita, 2014) Seorang yang resilien biasanya memiliki empat sifat-sifat umum, yaitu:

  1. Social competence (kompetensi sosial): kemampuan untuk memunculkan respon yang positif dari orang lain, dalam artian mengadakan hubungan-hubungan yang positif dengan orang lain.
  2. Problem-solving skills/ metacognition (keterampilan pemecahan masalah/ metakognitif): perencanaan yang memudahkan untuk mengendalikan diri sendiri dan memanfaatkan akal sehatnya untuk mencari bantuan dari orang
  3. Autonomy (otonomi): suatu kesadaran tentang identitas diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara independen serta melakukan pengontrolan terhadap lingkungan.
  4. A sense of purpose and future (kesadaran akan tujuan dan masa depan): kesadaran akan tujuan-tujuan, aspirasi, ketekunan (persistence), pengharapan dan kesadaran akan suatu masa depan yang cemerlang (bright).
BACA JUGA  FENOMENA BALAS DENDAM ANAK REMAJA

Sementara itu Wolins (dalam Desmita 2014) mengajukan tujuh karakteristik internal sebagai tipe orang yang resilien, yaitu:

  1. Initiative (inisiatif) yang terlihat dari upaya mereka melakukan eksplorasi terhadap lingkungan mereka dan kemampuan individual untuk mengambil peran/ bertindak.
  2. Independence (independen) yang terlihat dari kemampuan seseorang menghindar atau menjauhkan diri dari keadaan yang tidak menyenangkan dan otonomi dalam bertindak.
  3. Insight (berwawasan) yang terlihat dari kesadaran kritis seseorang terhadap kesalahan atau penyimpangan yang terjadi dalam lingkungannya atau bagi orang dewasa ditunjukkan dengan perkembangan persepsi tentang apa yang salah dan menganalisis mengapa ia salah.
  4. Relationship (hubungan) yang terlihat dari upaya seseorang menjalin hubungan dengan orang
  5. Humor (humor) yang terlihat dari kemampuan seseorang mengungkapkan perasaan humor ditengah situasi yang menegangkan atau mencairkan suasana kebekuan.
  6. Creativitas (kreatifitas) yang terlihat dari kemampuan memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi dan alternative dalam menghadapi tantangan hidup.
  7. Morality (moralitas) yang ditunjukkan dengan pertimbangan seseorang tentang baik dan buruk, mendahulukan kepentingan orang lain dan bertindak dengan integritas.

Penulis dapat menyimpulkan ciri- ciri orang yang resilien adalah memiliki: 1. Initiative (inisiatif) yang terlihat dari upaya bagaimana individu bertindak, mampu merencanakan sesuatu kedepannya. 2. Independence (independen) yakni kemampuan mengambil jarak dari sumber masalah, serta memiliki kesadaran tentang identitas diri. 3. Insight (berwawasan) yaitu memahami diri sendiri dan orang lain serta dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi. 4. Relationship (hubungan) yakni bagaimana individu menjalin hubungan yang positif dengan orang lain. 5. Humor (humor) yaitu menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun, memandang tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih ringan.  6. Creativitas (kreatifitas) yakni kemampuan memikirkan pilihan maupun konsekuensi dalam menghadapi tantangan hidup, 7. Morality (moralitas) yakni berorientasi pada nilai-nilai serta bertindak integritas.

  1. Sumber Pembentukan Resiliensi

Upaya mengatasi kondisi-kondisi adversity dan mengembangkan resiliensi seseorang, sangat tergantung pada pemberdayaan tiga faktor dalam diri, oleh Grotberg (dalam Desmita, 2005) disebut sebagai tiga sumber dari resiliensi (three sources of resilience), yaitu Aku punya, Aku ini, I can Aku dapat.

I have (Aku punya) merupakan sumber resiliensi yang berhubungan dengan pemaknaan seseorang terhadap besarnya dukungan yang diberikan oleh lingkungan sosial terhadap dirinya. Sumber I have (Aku punya)  ini mempunyai beberapa kualitas yang memberikan sumbangan bagi pembentukan resiliensi, yaitu:

  1. Hubungan yang dilandasi oleh kepercayaan penuh
  2. Struktur dan peraturan di rumah
  3. Model-model peran
  4. Dorongan untuk mandiri (otonomi)
  5. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, keamanan dan kesejahteraan.
BACA JUGA  PATOLOGI ANAK DAN REMAJA

I am (Aku ini) merupakan sumber resiliensi yang berkaitan dengan kekuatan pribadi yang dimiliki oleh seseorang, yang terdiri dari perasaan, sikap dan keyakinan pribadi. Beberapa kualitas pribadi mempengaruhi I am (Aku ini) ini adalah:

  1. Disayang dan disukai banyak orang
  2. Mencinta, empati, dan kepedulian pada oranglain
  3. Bangga dengan dirinya sendiri
  4. Bertanggungjawab terhadap perilaku sendiri dan menerima konsekuensinya
  5. Percaya diri, optimistik, dan penuh harap

     I can (aku dapat) adalah sumber resiliensi yang berkaitan dengan apa saja yang dapat dilakukan oleh seseorang sehubungan dengan keterampilan- keterampilan sosial dan interpersonal. Keterampilan-keterampilan ini meliputi:

  1. Berkomunikasi
  2. Memecahkan masalah
  3. Mengelola perasaan dan impuls-impuls
  4. Mengukur tempramen sendiri dan oranglain
  5. Menjalin hubungan-hubungan yang saling mempercayai

Menurut Grotberg (dalam Desmita, 2005) terdapat lima faktor yang sangat menentukan kualitas interaksi antara I Have, I Am, dan I Can tersebut, yaitu:

a. Kepercayaan (Trust)

Trust (kepercayaan) merupakan faktor resiliensi yang berhubungan dengan bagaimana lingkungan mengembangkan rasa percaya seseorang. Perasaan percaya ini akan sangat menentukan seberapa jauh seseorang  memiliki kepercayaan terhadap orang lain mengenai hidupnya, kebutuhan- kebutuhannya dan perasaan- perasaannya, serta kepercayaan terhadap diri sendiri, terhadap kemampuan, tindakan dan masa depannya. Kepercayaan akan menjadi sumber pertama bagi pembentukan resiliensi pada individu. Ketika seseorang merasakan percaya, hubungan yang penuh dengan kasih sayang maka individu akan lebih siap dalam menerima batasan terhadap perilakunya dan percontohan dari model peran (I Have); akan lebih mudah untuk menjadi disukai, empati, dan perhatian, optimis dan penuh harap (I Am); dan akan lebih mudah mendapatkan kesuksesan dalam hubungan interpersonal, pemecahan masalah dalam seting yang berbeda-beda, dan memberikan bantuan (I Can). Individu tidak hanya perlu belajar untuk mempercayai orang lain, namun juga percaya pada diri mereka sendiri. ketika mereka tidak percaya pada diri mereka sendiri, mungkin mereka akan menjadi tergantung kepada orang lain, merasa bahwa orang lain lebih baik daripada diri mereka, dan merasa sangat suka untuk terus dilindungi.

b. Otonomi (Autonomy)

Autonomy (otonomy), yaitu faktor resiliensi yang berkaitan dengan seberapa jauh seseorang menyadari bahwa dirinya terpisah dan berbeda dari lingkungan sekitar sebagai kesatuan diri pribadi. Pemahaman bahwa dirinya juga merupakan sosok mandiri yang terpisah  dan berbeda dari lingkungan sekitar, akan membentuk kekuatan- kekuatan  tertentu pada individu. Kekuatan tersebut akan sangat menentukan tindakan seseorang ketika menghadapi masalah. Oleh sebab itu, apabila seseorang berada di lingkungan yang memberikan kesempatan padanya untuk menumbuhkan otonomi dirinya ( I have), maka ia akan memiliki pemahaman bahwa dirinya adalah seorang yang mandiri, independen  ( I am). Kondisi demikian pada gilirannya akan menjadi dasar bagi dirinya untuk mampu memecahkan masalah dengan kekuatan dirinya sendiri ( Ican).

c. Inisiatif (Inisiative)

Inisiatif adalah kemampuan untuk mengambil suatu tindakan. Inisiatif berperan dalam penumbuhan minat individu untuk melakukan sesuatu yang baru dan mempengaruhi untuk mengikuti berbagai macam aktivitas atau menjadi bagian dari suatu kelompok. Dengan inisiatif, individu menghadapi kenyataan bahwa dunia adalah lingkungan dari berbagai macam aktivitas dan individu dapat berperan aktif dalam setiap aktivitas yang ada. Ketika individu berada pada lingkungan yang memberikan kesempatan mengikuti aktivitas yang ada (I Have), maka individu akan memiliki sikap optimis serta bertanggungjawab jawab (I Am). Kondisi ini pada gilirannya akan menumbuhkan perasaan mampu pada individu untuk mengemukakan ide-ide kreatif (I Can).

d. Industri (Industry)

Industri berhubungan dengan pengembangan aktivitas-aktivitas rumah, dan sosialisasi. Dan melalui penguasaan keterampilan-keterampilan tersebut, individu akan mampu mencapai prestasi baik di rumah maupun lingkungan sosial. Dengan prestasi tersebut, dapat menentukan penerimaan individu di lingkungannya. Apabila individu berada pada lingkungan yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan, baik di rumah maupun di lingkungan sosial (I Have), maka individu akan dapat mengembangkan perasaan bangga terhadap prestasi-prestasi yang telah dan akan dicapainya (I Am). Kondisi demikian akan menumbuhkan perasaan mampu pada individu dalam upaya untuk memecahkan setiap persoalan, atau mencapai prestasi sesuai dengan kebutuhannya (I Can).

e. Identitas (Identity)

Identitas adalah faktor resiliensi yang berkaitan dengan pengembangan pemahaman individu akan dirinya sendiri, baik kondisi fisik maupun psikologisnya. Identitas dapat membatu individu dalam mendefinisikan dirinya dan mempengaruhi self-image-nya. Identitas ini diperkuat melalui hubungan dengan faktor-faktor resilien lainnya. Apabila individu memiliki lingkungan yang memberikan umpan balik berdasarkan kasih sayang, penghargaan atas prestasi dan kemampuan yang dimilikinya (I Have), maka individu akan menerima keadaan diri dan orang lain (I Am). Kondisi demikian akan menumbuhkan perasaan mampu dalam mengendalikan, mengarahkan, dan mengatur diri, serta menjadi dasar untuk menerima kritikan dari orang lain (I Can).

Silahkan Berikan Komentar Anda