TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

TEORI INTIMASI

teori intimasiHello Sahabat Ranah, tanpa kita sadari interasksi dengan orang lain memiliki kedekatan tertentu.

Misalnya teman yang akrab memiliki jarak tertentu. Kali ini kita akan bahas mengenai teori intimasi menurut para ahlinya.

 

 

 

Teori Intimasi

A. Definisi

Secara harfiah intimasi dapat diartikan sebagai kedekatan atau keakraban dengan orang lain. Intimasi dalam pengertian yang lebih luas telah banyak dikemukan oleh para ahli, antara lain :

  • Shadily dan Echols (1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh saling percaya dan kekeluargaan.
  • Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain.
  • Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif dan saling berbagi kegemaran atau aktivitas yang sama.
  • Intimasi menurut Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman atau informasi, bukan saja pada hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling mereka, tapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup, keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup.
  • Atwater (1983) mengemukakan bahwa intimasi lebih mengarah keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling berbagi pikiran dan perasaan mereka.
  • Hubungan intimacy dapat terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan menghormati, serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan Omarzu dalam Papalia dkk, 2001).
  • Selain itu dalam proses intimasi perlu untuk memasukkan unsur perasaan bersatu dengan orang lain. Kebutuhan untuk bersatu dengan orang lain adalah pendorong yang sangat kuat untuk individu agar membentuk suatu hubungan yang kuat, stabil, dekat dan terpelihara dengan baik (Papalia dkk, 2001).
  • Intimasi menurut Erikson (dalam Kroger, 2001) mendefinisikan keintiman mengacu pada perasaan saling percaya, terbuka dan saling berbagi dalam suatu hubungan. Keintiman terjadi karena kita mengenal diri kita dan merasa cukup aman dengan identitas yang kita miliki (Erikson dalam Shaffer, 2005).

Berdasarkan beberapa definisi intimasi di atas, dapat disimpulkan bahwa intimasi adalah suatu hubungan interpersonal baik hubungan dengan teman, sahabat, orang tua, kekasih dan lingkungan dimana orang itu tinggal, adanya timbal balik antar individu yang terwujud melalui terlibat empati dan pemikiran yang mendalam, saling membuka diri, saling menerima antara satu sama lain dan saling menghormati. Pengertian intimasi ini akan dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan suatu definisi intimacy social.

B. Aspek-aspek Intimasi

Hubungan intim dapat terjadi dalam hubungan romantis, pertemanan dan hubungan orang tua-anak serta hubungan interpersonal lainnya, dimana dalam hubungan tersebut terdapat interaksi yang intim.

Interaksi intim meliputi dua aspek yaitu (Prager, 1995):

  • Pengalaman intim, yaitu persepsi mengenai pengertian dan perasaan positif (kehangatan dan ketertarikan)
  • Perilaku intim, meliputi keintiman verbal dan keintiman nonverbal

Atwater (1983) mengemukakan ada 4 aspek intimasi, yakni:

  • Pengungkapan diri

Pengungkapan diri (self disclosure) ini merupakan pusat intimasi. Suatu hubungan interpersonal dapat dikatakan suatu hubungan interpesonal yang intim apabila disertai dengan pengungkapan diri (self disclosure) (Atwater, 1983 ; Brehm et al, 2002). Kemudian, Jourard (dalam Calhoen dan Acocella, 1990) mengungkapkan bahwa pengungkapan diri bersinonim dengan intimasi. Pengungkapan diri harus dilakukan dengan dua orang atau lebih yang secara sukarela saling berbagi informasi berupa pemikiran dan perasaan yang paling mendalam. Steinberg (1993) menjelaskan bahwa dengan pengungkapan diri kepada individu lain, individu tersebut dapat memahami dan mengerti apa yang diharapkan, dibutuhkan, disukai dan tidak disukai dari dirinya. Pengungkapan diri ini meliputi pengungkapan perasaan, persepsi, ketakutan dan keraguan atau ketidakyakinan dirinya kepada orang lain (Spurgin, 1989).

Pada aspek pengungkapan diri terdapat aspek-aspek yang menunjang suatu intimasi (Atwater, 1993 ; Brehm et al, 2002), yaitu

a. Timbal balik

Pengungkapan diri dengan orang lain biasanya bersifat timbal balik (Brehm et al, 2002). Pengungkapan diri ini akan semakin meningkat saat tiap individu saling membuka diri dan saling meminta informasi tentang masingmasing pihak. Timbal balik, juga didukung oleh tanggapan (responsiveness) dari partner dan berharap orang lain (partner) meresponnya dengan memberi pengertian, perhatian serta mendukung sepenuhnya (Brehm et al, 2002)

b. Ketertarikan

Seseorang mau mengungkapkan dirinya kepada orang lain, berarti orang itu menyukai orang tersebut untuk berbagi informasi. Kemudian, Collins dan Miller (dalam Michener dan De Lameter, 1999) mengatakan bahwa seseorang akan lebih suka untuk membuka informasi yang bersifat pribadi kepada orang yang disukainya.

  • Kepercayaan

Keputusan untuk membuka diri kepada orang lain memiliki pengertian bahwa individu tersebut mempercayai orang lain. Prager (1995) mendefinisikan kepercayaan sebagai suatu sikap atau harapan seseorang terhadap orang lain dalam berinteraksi. Kemudian Deutsch (dalam Prager, 1995) menegaskan bahwa kepercayaan adalah keyakinan bahwa seseorang akan menemukan apa yang diinginkannya dari orang lain untuk meredam ketakutan yang sedang dialaminya.

  • Kecocokan pribadi

Sesuatu yang mendasar dalam mencari kecocokan antara pribadi melibatkan persamaan di antara orang-orang yang terlibat dalam hubungan tersebut. Kecocokan pribadi diartikan sebagai kemampuan untuk menjalin suatu hubungan dengan melihat persamaan di antara orang-orang yang terlibat dalam hubungan tersebut. Persamaan itu antara lain: persamaan latar belakang, budaya sosial dan pendidikan. Selain itu persamaan minat, temperamen, dan nilai-nilai juga penting meskipun persamaan ini cenderung akan berkurang konsistensinya dalam hubungan tersebut nantinya. Selain itu, kecocokan pribadi akan tercita apabila perbedaan-perbedaan diantara kedua individu berfungsi sebagai saling melengkapi (complementary), bukan sebagai sumber konflik.

  • Penyesuaian diri

Karakteristik yang paling dibutuhkan dalam suatu hubungan dengan orang lain adalah kedalaman emosi diantara keduanya. Penyesuaian diri terhadap orang lain merupakan suatu usaha untuk mengerti pendapat dan pandangan orang lain. Kemampuan untuk mengerti tersebut harus dikomunikasikan kepada orang lain, dengan melibatkan perasaan empati pada orang lain, kemauan untuk mendengar aktif, dan merespon tanpa disertai adanya prasangka. Empati adalah mencoba untuk mengerti seseorang dari sudut pandangnya dan kemudian berusaha untuk menempatkan diri pada diri orang tersebut.

 

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intimacy

Calhoen dan Acocella (1990) menjelaskan bahwa intimasi dengan orang lain dapat terjalin karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Lamanya hubungan (waktu)

Lamanya hubungan antara dua pribadi mempengaruhi intimasi diantara keduanya. Semakin lama hubungan yang telah terjalin maka intimasi akan semakin dapat dikembangkan.

  • Frekuensi pertemuan

Frekuensi pertemuan menunjukkan seberapa sering pertemuan interpersonal dilakukan, semakin sering individu bertemu maka akan semakin mempengaruhi intimasi yang terjalin.

  • Kesempatan berinteraksi

Kesempatan berinteraksi merupakan usaha meluangkan waktu untuk dapat berinteraksi secara informal dan santai dengan orang lain. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi intimasi, yaitu: lamanya hubungan, frekuensi pertemuan, dan kesempatan berinteraksi.

 

D. Fungsi Intimasi

Konsep intimasi, sangat penting dan berpengaruh bagi kehidupan manusia. Intimasi memiliki fungs i untuk menyehatkan individu secara mental psikologis. Dimana pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan orang lain untuk keberlangsungan hidupnya secara terus- menerus. Intimasi juga merupakan salah satu bagian dari tingkat kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Yaitu kebutuhan akan afiliasi (need of affiliation), penghargaan dari orang lain (need of achievement), kebutuhan akan rasa aman (need of secure) (Maslow, 1993). Lebih lanjut Maslow (1993) menjelaskan bahwa intimasi adalah salah satu cara untuk mencapai aktualisasi diri pada individu. Dimana pada setiap tingkatan kebutuhan, intimasi tidak akan dapat dilepaskan satu sama lain, karena manusia membutuhkan orang lain untuk mencapai tingkatan kebutuhan yang lebih tinggi lagi, yang pada akhirnya akan mencapai tingkat aktualisasi diri (self actualization). (http://publication.gunadarma.ac.id)

 

Referensi :

Alwisol.2009.Psikologi Kepribadian.Malang:UMM Press

Putri, Yetisa I.2007.Hubungan Antara Intimasi Pelatih – Atlet Dengan Kecemasan Bertanding Pada Atlet Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Semarang. Universitas Diponegoro.Skripsi

Nuryani Dwi._.Intimasi Perselingkuhan Pada Pramugari Udara Yang Sudah Menikah.Universitas Gunadarma.Skripsi

 

Silahkan Berikan Komentar Anda