TULIS ARTIKELSalurkan Hobi Anda !!! Menulis Artikel Gratis Di Ranah Pendidikan

TIPE RUMAH : RUMAH TUNGGAL

Rumah sebagai tempat tinggal secara umum dapat dibedakan ke dalam 2 tipe, yaitu tipe rumah tunggal dan tipe rumah susun. Rumah di Indonesia, sering menggunakan tipe dan ukuran besaran rumah untuk menunjukkan kelasnya, seperti tipe 36 menunjukkan besarnya rumah adalah 36m2. Tetapi untuk rumah mewah biasanya tidak menggunakan ukuran luas rumah sebagai tipe. Tapi, menggunakan nama-nama yang menarik.

  1. Tipe rumah tunggal atau rumah inti (single-family DwellerI)

Tipe rumah tunggal seringkali disebut rumah tumbuh. Rumah tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan penghuninya, sehingga dapat tumbuh. Rumah sebagai tempat tinggal manusia, sudah barang tentu harus dapat menampung aktivitas penghuninya. Demikian pula dengan fungsi rumah hendaknya menjadi perhatian bagi perencana dan pengembang.

Kebutuhan rumah pada masyarakat di Indonesia adalah sangat tinggi. Masih cukup banyak irang yang tidak memiliki rumah sendiri secara sehat dan legal. Di kota-kota besar, apabila ada lahan kosong yang tida terawat dan terawasi, maka dapat terjadi ada yang membangun rumah di atas tanah yang bukan miliknya. Tingginya kebutuhan rumah, maka pemerintah meluncurkan program rumah sederhana dan rumah sangat sederhana. Rumah sederhana tersebut ditujukan untuk masyarakat yang kemampuan ekonominya terbatas (low cost housing).

Penelitian yang dilakukan oleh penulis di rumah sederhana yaitu tipe 36 di Bandung, menunjukkan bahwa tipe 36 ukuran 36m2, memiliki 2 ruang tidur dan ruang tamu yang merangkap fungsi dan sebuah kamar mandi. Dengan adanya 2 kamar tidur, makas rumah sederhana sebaiknya di huni oleh keluarga kecil, yaitu orang tua dan 1 orang anak. Namun, keluarga di Indonesia sangat jarang yang memiliki anak 1 orang saja. Pada umumnya mereka memiliki minimal 2 orang anak, bahkan dapat lebih.

BACA JUGA  FUNGSI RUMAH SECARA PSIKOLOGIS

Permasalahan psikologis muncul pada rumah sederhana tipe 36 yaitu ketika keluarga tersebut memiliki 2 orang anak dengan jenis kelamin yang berbed, yaitu pri dan wanita. Ketika anak masih berusia dibawah lima tahun, permasalahn ini belum dirasakan. Ketika anak beranjak besar, maka anak membutuhkan kamar yang terpisah. Pemisahan untuk anak yang berbeda jenis kelamin adalah sangat penting. Ketika usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa mereka berbeda jenis kelaminnya. Identifikasi tentang jenis kelamin pada anak-anak terbetuk sejak usia kanak-kanak. Mereka mulai bermain dengan permainan-permainan yang dapat mengindetifikasikan pada jenis kelamin. Anak laki-laki akan memilih permainan yang menunjukkan bahwa dia anak laki-laki, yaitu bermain mobil-mobilan atau senjata mainan. Sedangkan, anak perempuan bermain boneka atau bermain masak-masakan menirukan ibunya. Dengan demikian, pada usia tersebut anak sudah mulai menyadari identitas jenis kelaminnya.

Rumah tinggal sebagai rumah tumbuh, dengan mudah orang tuanya menambah kamar untuk salah satu anaknya. Hal ini dikarenakan pada rumah tinggal masih memiliki ruang untuk membangun , yaitu dibagian halamannya, atau menambah bagian atasnya. Masalah identifikasi jenis kelamin anak dapat teratasi pada keluarga yang tinggal dirumah tunggal. Rumah tunggal lebih mudah menyelesaikan masalahnya, keluarga yang tinggal di tipe rumah tunggal dapat mengubah lingkungannya (melakukan “adjustment”).

Keluarga yang memiliki anak masih kecil dibawah 5 tahun belum memiliki masalah yang berarti dengan luasnya rumah. Anak-ankanya dapat melakukan eksplorasi lingkungan didalam rumahnya, sehingga anak masih tetap terawasi. Tapi, ketika anak beranjak usia sekolah, maka eksplorasi ruang dirumahnya sudah tidak memadai lagi. Anak mulai membutuhkan ruang lebih besar lagi untuk tempat bermainnya. Rumah dengan tipe 36 tersebut tidak cukup memberikan ruang untuk bermain pada anak.

Apabila tidak ada ruang yang lebih besar, maka anak mulai keluar rumah mencari ruang bermain. Kebutuhan ruang lebih besar mulai terasa ketika anak mulai memasuki usia sekolah. Keluarga mulai membutuhkan ruang untuk belajar anak, atau ruang yang berdialog dengan anak. Anak di awal usia sekolah belum mau belajar dikamarnya sendiri, anak masih membutuhkan teman dan bimbingan untuk belajar. Dalam masalah ini bimbingan diperlukan dari orang tuanya dan anak mulai ditekankan dalam hal disiplin dalam bertingkah laku.

Rumah sangat sederhana (RSS), luas bangunannya pada umumnya adalah kurang dari 36m2. Luas bangunannya yang kurang dari 36m2, akan menimbulkan masalah psikologis yang lebih banyak. Hal ini dikarenakan ruang yang ada pada bangunan tersebut sangat kurang, sehingga banyak fungsi rumah yang tidak dapat terpenuhi di rumah sangat sederhana.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, rumah dengan luas bangunan sebesar 36m2, merupakan rumah yang paling kecil. Dengan perkataan lain, rumah dengan luas bangunan sebesar 36m2, adalah yang dapat memenuhi kebutuhan manusia secara minimum. Dengan demikian, apabila ingin lebih memuaskan penghuninya, jangan membangun rumah yang lebih kecil dari ukuran 36m2.

Referensi :

Iskandar, Zulrizka. 2013. Psikologi Lingkungan (Metode dan Aplikasi). Bandung: PT. Refika Aditama

Silahkan Berikan Komentar Anda